Kapan terakhir merasa bangga menjadi orang indonesia?

Oleh Totot Indrarto
Ditulis untuk Majalah AdDiction, Juli 2007


Iklan yang bagus dan sukses biasanya adalah komunikasi yang cerdas menggali consumer insight-nya. Seperti billboard raksasa Nike bergambar Bambang Pamungkas, Ponaryo Astaman, dan Elie Aiboy (tidak ada di bawah), yang dipasang di depan pintu Barat Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, menjelang AFC Asian Cup 2007.

Copy iklan buatan Publicis Dialog ini singkat tapi menohok: Ini kandang kita!

Pembuat iklan ini tahu betul, dalam sepakbola, bermain di kandang sendiri artinya sudah 50% menang. Dukungan penonton di stadion, yang jumlahnya pasti lebih banyak dari pendukung tim lawan, sering dianggap sebagai pemain ke-12. Anda yang paham sepakbola tahu persis: tim dengan keunggulan satu pemain saja bisa lebih mudah menguasasi permainan.

Pembuat iklan ini juga paham sekali, sepakbola sudah jadi agama baru bagi sebagian besar laki-laki di atas bumi. Dalam agama itu, fanatisme penganutnya sangat mudah dibakar cukup dengan sebuah harapan yang paling tidak masuk akal sekali pun: tim kecintaannya berpeluang mengalahkan tim berkelas dunia yang jauh lebih hebat. Dan bagi orang Indonesia, di tingkat internasional, tim sepakbola kecintaannya cuma satu: Tim Nasional Indonesia (peringkat 143 FIFA).

“Sepakbola” dan “fanatisme” memang dua hal tak terpisahkan, yang di iklan ini secara cerdas dipertautkan dalam sebuah eksekusi kreatif (visualisasi dan copy) yang simpel. Ia kemudian mendapatkan makna yang lebih besar karena dalam konteks kebangsaan, fanatisme identik dengan nasionalisme.

Anda yang sudah kehilangan kepercayaan pada nasionalisme sebaiknya datang ke Stadion Utama, berbaur dengan puluhan ribu penonton – sebagian adalah kelas menengah Jakarta yang selama ini cuma mau menonton sepakbola di televisi. Seketika Anda bakal merasakan, orang-orang itu datang bukan cuma untuk sepakbola. Kita bakal merinding mendengar orang-orang itu serempak menyanyikan Indonesia Raya dan berjibaku mendukung tim yang sama dengan alasan yang mungkin absurd: sama-sama orang Indonesia. Jika Timnas menang, atau kalah secara terhormat, sebuah perasaan aneh dan asing bakal tiba-tiba menyelinap di dada: perasaan bangga menjadi orang Indonesia!

Halo? Kapan terakhir Anda bangga menjadi orang Indonesia? Bukankah hebat, sebuah iklan – ya betul, cuma iklan! – bisa ikut membantu banyak orang menemukan kembali makna Indonesia yang sudah lama hilang?

Ada
Fatal error: Call to undefined function post_comment_count() in /home/satucc/public_html/wp-content/themes/shaken-grid-premium/comments.php on line 30