Merayakan kehadiran naskah-naskah iklan hebat

Oleh Ricky Pesik


Sebagai Copywriter afkiran, sudah lama saya tak menikmati kehadiran naskah-naskah iklan hebat di jagat periklanan nasional yang membuat saya iri pada penulisnya. Tapi bulan ini saya mendapat “hadiah” dua iklan sekaligus! Senangnya….

Tadinya saya ingin memberi judul tulisan ini Celebrating Craftmanships in Copywriting. Tapi rasanya lebih mantap dengan judul di atas. Memakai bahasa kandang kita sendiri.

Tulisan ini saya hadirkan memang untuk menyampaikan salut setinggi-tingginya kepada para pekerja iklan yang terlibat melahirkan dua iklan berikut ini:

Mengirim ke Negeri Matahari Terbit sebelum terbit matahari


Billboard Federal Express (FedEx) ini saya temukan di jembatan penyeberangan Jalan Warung Buncit Raya. Rasanya belum lama terpasang.

FedEx adalah salah satu perusahaan yang keberhasilan membangun identitas globalnya banyak dijadikan studi kasus. Mereka berhasil menerapkannya secara konsisten di seluruh dunia. Bila kita melihat cara penulisan naskahnya yang tanpa spasi, itu juga bagian dari konsistensi yang mereka terapkan untuk memperkuat pesan mereka, yakni WeLiveToDeliver.

Di tengah maraknya iklan-iklan kampanye global yang kebanyakan terpuruk hanya menjadi iklan terjemahan tanpa jiwa, iklan ini berhasil membebaskan diri dari kekakuan dan kemalasan. Menilik crafting bahasanya, iklan ini jelas bukan terjemahan mentah-mentah. Biro iklannya berhasil menangkap esensi merek dan menemukan jiwa baru yang relevan dalam bahasa Indonesia.

Jadi siapa bilang, mentang-mentang citra global, harus di-londo-kan juga bahasanya? Kerja keras tim kreatif FedEx membuktikannya.

Ini Kandang Kita!


Semua penggila bola tentu akrab dengan jargon hebat satu ini. Apalagi sore nanti, Tim Nasional Indonesia akan mempertaruhkan nasibnya di Piala Asia 2007 melawan raksasa sepak bola Asia, semifinalis Piala Dunia 2002, Korea Selatan.

Lagi-lagi, inilah sebuah platform kampanye global yang sukses dilokalkan oleh kerja keras tim dari Publicis Indonesia untuk Nike. Sumpah, waktu melewati Jalan Asia Afrika dan melihat billboard raksasa ini terpasang di sepanjang jalan, saya menyumpah dalam hati: berharap sayalah penulis naskah iklan ini.

Ini Kandang Kita! Sungguh sebuah pesan dahsyat di momen yang tepat. Meneguhkan keyakinan di belahan mana pun di dunia, dalam olahraga, ketika kita bermain di kandang sendiri, 50% kemenangan sudah di tangan. Menangkap kerinduan yang sungguh terpendam dari pecinta sepakbola terhadap prestasi Tim Nasional. Mengungkap kepekatan fanatisme. Headline semacam ini hanya akan keluar dari orang-orang yang mau memahami benar kedalaman jiwa para penggemar sepakbola di negeri ini.

Selebihnya, silakan simak saja euforia luar biasa yang sedang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) dari liputan media. Iklan ini seperti sedang bekerjasama sempurna dengan semangat luar biasa Ponaryo Astaman dkk. untuk membuktikan: nama Indonesia masih layak diteriakkan dan Indonesia Raya dinyanyikan dengan bangga secara bersamaan oleh 100 ribu lebih pendukung di GBK. Membuat siapa pun yang berada di tengahnya, pasti merinding dan meneteskan airmata haru. Hebat!

Nah, para pengiklan dan penulis iklan, masih menganggap bahasa londo lebih enak dan keren untuk berkomunikasi dengan bangsa sendiri? Makanya, jangan kebanyakan main di mal.

Ada
Fatal error: Call to undefined function post_comment_count() in /home/satucc/public_html/wp-content/themes/shaken-grid-premium/comments.php on line 30