Selamat datang di dunia fetish

Oleh M. Ismail Fahmi (Ismet)
Ditulis untuk Buku Program Citra Pariwara 2008


Perubahan datang begitu perlahan, sampai kita, manusia, tidak sadar dengan perubahan itu. Perubahan mengendap-endap, lalu menyergap, membuat manusia gelagapan dan gagap karena mereka tiba-tiba berada di tempat yang begitu asing dan tidak mereka mengerti.

Celakanya lagi, perubahan adalah sesuatu yang pasti, yang tidak mungkin dihindari.

Lalu, kalau perubahan datang mengendap-endap seperti itu, siapa yang menciptakan perubahan? Siapa yang memulai perubahan itu?

Tentu jawabannya, manusia sendiri yang menciptakannya. Para pionir dan manusia-manusia yang memiliki visi jauh ke depan. Mereka yang berani bermimpi dan mewujudkannya. Mereka yang berani dicap gila, demi mewujudkan apa yang mereka impikan.

Bukankah Henry Ford, ketika dia membangun mobilnya pertama kali ditertawakan oleh tetangganya? Kereta tanpa kuda, dia gila! Begitu kata mereka. Tapi apa yang terjadi? Beberapa tahun kemudian Henry Ford mendirikan Ford Motor Company yang mengubah cara orang Amerika hidup. Yang membuat Amerika begitu haus akan minyak. Yang menjadi tersangka utama terciptanya kawasan yang sekarang dikenal sebagai sub-urban. Yang menjadikan Amerika sebagai negara yang begitu efisien dalam memproduksi berbagai barang dengan assembly line-nya.

Begitu hebatnya benda-benda buatan manusia, sampai cara hidup manusia dibentuk, dipengaruhi, dan berputar di sekitar benda-benda buatan kita sendiri.

Disadari atau tidak, kita semua menjadi fetish. Manusia-manusia fetish yang hidup dalam budaya fetish. Persis seperti manusia-manusia zaman purba, jauh sebelum kita mengenal politeisme, apalagi monoteisme.

Idolatry. Jimat. Berhala. Tapi kita menyebutnya sebagai teknologi. Internet. Gadget.

Dan kita terus menerus beradaptasi dengan tuhan-tuhan kecil buatan kita sendiri. Membangun hidup di sekeliling mereka. Lalu meninggalkannya demi kehidupan baru yang ditawarkan oleh tuhan-tuhan baru yang kita ciptakan.

Perubahan adalah pusaran energi yang menggerakkan peradaban, dan teknologi ada di pusatnya.

Q adlh hp q

Martin Cooper pada 1973 mungkin tidak pernah membayangkan bagaimana ciptaannya bisa mengubah wajah dunia. Pegawai Motorola tidak pernah membayangkan ide sederhana untuk membuat telepon tanpa kabel bisa mengubah wajah dunia untuk selamanya. Motorola Dyna-Tac pada 1973 membawa perubahan besar-besaran dalam gaya hidup kita.

Bayangkan, di awal 90-an, ketika telepon umum dan telepon kartu merajalela, ketika alat komunikasi yang paling hebat adalah pager, kita harus membawa koin-koin dan kartu telepon ke mana-mana. Antrean di depan telepon saat itu adalah hal yang lumrah.

Kalau hendak membuat janji, segalanya harus pasti. Jam berapa, di mana. Karena komunikasi yang terjadi dengan pager hanya satu arah.

Bandingkan dengan cara hidup kita sekarang. Janjian? Nanti SMS-an saja. Tempatnya? Belum tahu, kita lihat kalau sudah sampai di tempat tertentu. Jam berapa? Ya, SMS-an saja nanti.

Janji bertemu, tidak lagi sesakral 20 tahun lalu. Pembatalan bisa datang kapan saja lewat telepon atau SMS.

SMS, short messaging service, sebuah fasilitas yang belum lama dimiliki oleh telepon selular, mengubah cara kita menulis. Menciptakan berbagai singkatan baru. Membuat guru bahasa di penjuru dunia membentur-benturkan kepala ke tembok. Membuat otoritas bahasa di seluruh dunia mengalami dilema, apakah bahasa baru ini harus diserap atau dibiarkan saja. Membuat banyak dosen dengan geram membanting tugas-tugas yang diserahkan mahasiswanya.

Berbagai akronim dan bahasa baru tercipta. Untuk penyebutan kata ganti orang pertama saja sudah begitu banyak. Q, Akyu, Sy, G, GW dan banyak lagi cara penyebutan yang berbeda. Gejala ini tidak hanya ada dalam bahasa Indonesia. Bahasa Inggris yang sudah begitu tua pun terkena serangan berjuta akronim yang mendadak datang.

Orang tua sampai memicingkan mata dan berpikir sangat keras untuk mengerti apa yang dimaksud oleh anaknya ketika mereka menerima pesan, “Pa, q mw plg mlm. Mw ntn sm pcr q. Blh ya pa?”

Musik 30 detik

Musik, sebagai sebuah bentuk ekspresi manusia, mungkin menjadi salah satu yang paling banyak berganti wajah sepanjang perjalanan manusia modern. Mulai dari zaman ketika kita pertama kali menguasai rhytm, lalu menciptakan melodi, kemudian berkenalan dengan harmoni, sampai sekarang ketika musik menjadi komoditas yang mampu menjangkau milyaran manusia.

Lihatlah bagaimana musik mengalami revolusi ketika manusia menciptakan piringan hitam. Di awal hidupnya, piringan hitam hanya mampu menampung beberapa menit lagu. Akibatnya, mereka yang ingin mengabadikan karya, terpaksa memotong-motong musik buatannya, untuk bisa masuk ke dalam format rekaman ciptaan Edison.

Lagu menjadi tidak sepanjang zaman musik klasik berjaya di dunia. Lahirlah musik-musik berdurasi pendek, 5-6 menit  seperti yang kita kenal sekarang.

Musik berdurasi pendek dan teknologi radio yang ditemukan manusia mengubah cara kita menikmati musik. Bisa dibilang, dengan teknologi radio dan alat perekam, musik mengalami desakralisasi. Kita tak lagi meluangkan waktu khusus untuk mendengarkan musik. Di mana saja, selama ada radio, kita bisa mendengarkan musik. Tak perlu lagi basa-basi ala musik klasik dengan aturan yang ketat.

Pembuat mobil menangkap hal itu, sehingga mereka menyediakan radio sebagai tambahan fasilitas di mobil. Akibatnya, paling tidak di Amerika sana yang — atas jasa Henry Ford — menjadikan mobil sebagai tradisi, generasi baru pendengar musik lahir. Generasi anak muda yang nantinya akan mengubah wajah musik dunia dengan musik mereka.

Tentu para visioner tetap mengejar yang lebih besar lagi. Mereka ingin agar semua orang benar-benar bisa mendengarkan musik di mana saja, kapan saja. Mereka ingin semakin banyak orang yang menikmati, karena itu berarti aliran keuntungan dalam jumlah raksasa bisa masuk ke dalam kantong. Lahirlah teknologi kaset yang benar-benar membuat musik jadi begitu massif.

Alat pemutar dan perekam menjadi begitu murah dan mudah. Tidak perlu jarum bermata berlian. Tidak perlu lagi vinyl. Semua jadi murah. Kita bahkan bisa merekam di mana saja. Kapan saja.

Generasi pembajak pertama lahir karena teknologi murah bernama kaset. Kompilasi yang dibuat di rumah-rumah untuk diberikan kepada pacar tercinta. Album-album dahsyat yang tak terbeli bisa diperbanyak dengan mudah.

Lalu muncul bangsa yang membuat cara mendengarkan musik berubah lagi. Jepang menghasilkan Walkman, yang sungguh mengubah wajah musik dan anak muda di seluruh dunia. Di mana saja, kapan saja, kita bisa mendengar, bahkan merekam musik yang kita suka. Mereka yang ingin menutup telinga dari dunia, tinggal menyalakan walkman mereka. Mereka yang ingin mencipta, tinggal merekamnya dengan menekan dua tombol, Record dan Play.

Dari berbagai penjuru dunia, lahir musik dan musisi baru. Radio menjadi terlalu penuh. Mereka harus melakukan sesuatu yang luar biasa, agar musik mereka bisa menarik perhatian manusia lainnya. Promosi harus digenjot agar album mereka bisa laris manis. Mereka pun melirik medium baru, TV. Live show di TV awalnya menjadi pilihan. Lalu mereka menemukan sebuah format iklan yang berbeda. Baru. Menarik. Klip Video.

Dan ada visioner lain yang menangkap gejala menarik ini sebagai salah satu cara untuk menangguk keuntungan lebih. Sebuah TV yang melulu berisi iklan lagu. Sebuah radio dalam medium televisi. Mereka menyebutnya sebagai MTV.

Teknologi digital masuk, wajah musik pun berubah selama-lamanya. Dari cakram padat yang mampu memuat suara lebih detail, kita tiba di era MP3. iPod menjadi raja, dan pembajakan merajalela. Industri musik yang fondasinya dibangun dengan mengandalkan teknologi analog menemukan diri mereka goyah. Kekuasaan mereka yang tadinya luar biasa besar perlahan-lahan direbut kembali oleh artis dan konsumen.

Apalagi internet datang, dan itu mengubah wajah dunia musik. Artis tahu bahwa selama ini industri musik yang mendapatkan keuntungan terbesar dari model bisnis yang berjalan, dan mereka berusaha merebut kekuasaan ini. Konsumen pun sudah bosan didikte seleranya.

Akibatnya, artis dan konsumen memotong perantara, dan berhubungan langsung satu sama lain. Radiohead membagi musiknya lewat internet. Ribuan, bahkan mungkin jutaan band indie menggunakan MySpace untuk berhubungan langsung dengan fans-nya. Mereka berkarya lalu menjualnya langsung ke konsumennya.

Hubungan antara artis dan fans menjadi sangat personal. Pertukaran email. Saling meng-add di situs jejaring sosial.

Artis dan fans berdialog di berbagai situs. Produsen dan konsumen bicara dan saling mendengarkan. Fans tidak lagi menerima pasrah sebuah karya, mereka bisa mempengaruhi artisnya, seperti artis bisa mempengaruhi fans-nya.

Industri musik tentu tidak berdiam diri. Mereka tentu tidak mau kehilangan keuntungan. Mereka menciptakan format baru untuk menjual. Mereka menciptakan sesuatu yang bisa mendatangkan keuntungan besar.

Ring Back Tone
. Sepotong lagu yang diperdengarkan ketika kita menunggu orang mengangkat telepon kita. Sepotong lagu yang bisa dibeli dengan harga murah sekali. Sepotong lagu yang menjadi penghasilan utama industri musik akhir-akhir ini.

Karena penjualan yang menggila, RBT akhirnya menjadi sasaran utama bagi banyak pelaku industri musik dan musisi untuk dieksploitasi. Tidak heran kalau syarat utama sebuah lagu akhir-akhir ini adalah hook, potongan lagu yang bisa menempel di otak manusia. Berulang-ulang.

Bayangkan, dari lagu yang panjang macam lagu klasik, dipadatkan menjadi lagu berdurasi beberapa menit, sekarang banyak musisi yang berkonsentrasi hanya pada hook. Selebihnya? Basa-basi saja.

Tiga puluh detik musik seperti sepotong permen karet yang dalam beberapa menit menjadi pahit dan kita ludahkan ke tempat sampah.

Masa lalu yang enggan berlalu

Internet mungkin adalah temuan manusia yang paling mempengaruhi hidup manusia dalam 10-20 tahun belakangan ini. Internet menjadi pedal gas yang ditekan dalam-dalam, mengakselarasi hidup manusia, mungkin sampai melebihi kecepatan cahaya, membuat masa lalu dan masa kini, bahkan masa depan, menyatu. Membuat kita hampir kehilangan orientasi waktu.

Awalnya, hanya teks saja yang bisa kita pertukarkan lewat jaringan internet. Tapi sekarang, apapun kita bisa pertukarkan, mulai dari gambar, suara, video, mata uang. Tidak bisa terbayangkan apa yang akan terjadi jikalau sistem internet dunia mati pada saat yang bersamaan. Mungkin krisis ekonomi besar-besaran bisa melanda dunia.

Begitu besar pengaruh internet, sampai cara kita menjalin hubungan dengan sesama pun berubah karenanya.

Situs jejaring sosial mengubah cara pertemanan kita. Kalau ada sebuah situs yang mampu menyatukan masa lalu dan masa sekarang, mungkin hanya situs jejaring sosial. MySpace, Facebook, Multiply, Friendster, Linkedin, Hi5, dan banyak lagi situs jejaring sosial lainnya mengubah kita menjadi pengintip-pengintip amatir. Mengamati dan mengawasi orang lain, mulai dari pasangan, sampai orang asing yang terpisah ratusan ribu kilometer.

Saat ini kita jadi sulit untuk meninggalkan masa lalu kita begitu saja. Lima belas tahun lalu, mungkin kita bisa meninggalkan cinta pertama atau orang yang kita sakiti begitu saja, untuk tidak lagi bertemu untuk selamanya. Tidak lagi saat ini. Setiap saat, cinta pertama bisa muncul dan meng-add kita di salah satu situs pertemanan itu. Setiap saat, kita bisa bicara lagi, bernostalgia tentang masa lalu dengan teman sebangku masa sekolah dasar yang lama sekali tidak kita jumpai. Masa lalu punya cara untuk hidup kembali lewat foto-foto dan grup yang ada di situs jejaring sosial. Mimpi-mimpi yang tak terjadi bisa menemukan daya hidupnya kembali.

Kita pun menjadi manusia narsis kelas wahid yang memajang segala yang kita punya di tempat publik. Blog, Twitter, Plurk, Flickr, Qik, Tumblr, Youtube, Deviantart, dan banyak situs semacamnya menjadi galeri raksasa yang bisa diakses oleh orang sedunia.

Dengan cara yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, manusia berhasil mencapai keabadiannya. Lewat monumen-monumen yang kita bangun di jejaring maya, manusia hidup selamanya. Segala kata, foto, video, suara, kenangan, impian yang pernah kita miliki bisa hidup selamanya. Bisa dibaca oleh banyak generasi setelah kita mati nanti.

Akibatnya, ingatan pribadi bukan lagi hal yang penting. Segalanya ada dalam satu klik. Bayangkan mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar saat ini. Mereka yang sedari kecil ditemani oleh internet dan berbagai jejaringnya. Tidak ada kebutuhan bagi mereka untuk mengingat-ingat cerita. Semua pengalaman bisa ditulis di blog. Semua dokumentasi bisa di-upload di berbagai situs  yang ada. Ingatan dipindahkan ke bentuk digital. Tidak ada lagi romantisasi, semua jelas terpapar dan bisa diakses oleh orang sedunia.

Memori tidak lagi romantis, menjadi kering seperti pie chart di buku statistik. Tidak ada lagi ingatan pribadi yang dibesar-besarkan oleh kita sendiri. Semua jadi milik bersama karena apapun yang ada dalam pikiran kita tertuang di ruang maya.

Kita jadi tidak bisa membedakan, mana ruang publik, mana ruang privat. Garis pemisah keduanya perlahan menjadi kabur. Segalanya menjadi transparan dan bisa dilihat oleh orang di seluruh dunia.

Kita bisa memberi tahu apa yang sedang kita lakukan saat ini, dan teman kita bisa tahu pada saat yang sama. Sedang makan siang. Sedang pacaran. Sedang tidur. Sedang berjalan-jalan di luar negeri. Semua bisa dibagi

Semangat berbagi yang sempat hampir mati, kini tampil kembali dalam bentuknya yang baru. Kegelisahan yang terjadi karena kekurangan informasi menjadi flu masa kini.

Kini segalanya dalam genggaman

Ketika telepon selular, musik, dan internet bergabung menjadi satu, yang terjadi adalah revolusi luar biasa dalam kehidupan manusia. Seperti big bang babak ke dua, yang membuat sebuah dunia baru tercipta.

Tentu, ada yang tergagap-gagap melihat perubahan ini. Dalam dua puluh tahun terakhir, begitu banyak yang berbeda, begitu banyak yang berubah. Kebudayaan baru sedang dalam proses penciptaan dan mungkin akan terus dalam proses mengingat cepatnya tuhan kecil baru tercipta. Mereka yang gagap berusaha menahan perubahan yang terjadi lewat berbagai cara. Hanya karena mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mereka berlindung di balik tembok tebal yang mereka buat sendiri.

Sementara yang mengerti dan mempunyai visi akan memeluk perubahan yang terjadi. Mereka akan mengubah cara hidup mereka, mengikuti gelombang raksasa yang melanda dunia. Mereka tidak melawannya. Mereka memeluk perubahan dengan sepenuh hati. Mereka inilah yang akan terus hidup dan menciptakan perubahan-perubahan baru di masa depan.

Mereka yang gagal mengubah diri, akan punah seperti dinosaurus yang habis dimakan zaman.

Ada
Fatal error: Call to undefined function post_comment_count() in /home/satucc/public_html/wp-content/themes/shaken-grid-premium/comments.php on line 30