Ikut berubah, atau mati

Oleh Totot Indrarto
Ditulis untuk Buku Program Citra Pariwara 2008


Jauh sebelum Barrack Obama mengusung tema “perubahan”, yang mengantarnya menjadi Presiden AS ke-44, orang di seluruh dunia sudah ramai membicarakan soal tersebut. Boleh dibilang hari-hari ini isu pokok yang paling bayak dibicarakan adalah perubahan.

Berbeda dengan dua atau tiga tahun lalu, perubahan bukan lagi bisa dilihat di depan mata. Saat ini perubahan telah berlangsung di sekeliling kita, bahkan di bawah telapak kaki kita.

Dan berbeda dari sebelumnya, perubahan yang sekarang terjadi tidak lagi linier, melainkan lintas-batas, lintas-bidang, lintas-disiplin, bahkan juga lintas-waktu. Lihat bagaimana, misalnya, revolusi internet sangat berpengaruh dalam estetika senirupa. Atau perubahan dalam spiritualisme manusia bisa mempengaruhi industri sepatu atau automotif.

Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, perubahan saat ini telah membawa kita memasuki abad hibrida. Semua hal lalu menjadi hybrid. Adidas, misalnya, bukan lagi semata sports apparel, karena orang bisa menggunakannya dalam jamuan makan malam. Para desainer mobil kini tidak lagi merancang mobil melulu sebagai alat transportasi.

Bahkan kita telah menjadi manusia hybrid. Seorang yang puluhan tahun bekerja sebagai praktisi periklanan, misalnya, pada saat bersamaan juga dihormati sebagai aktivis hak asasi manusia, atau pakar IT, atau juri festival film internasional.

Bagaimana menjelaskan semua fenomena baru itu?

Tidak mudah, tetapi juga sebetulnya tidak terlalu sulit, jika mau mengubah paradigma berpikir kita. Mereposisi kesadaran kita bahwa sekarang era modern, yang ditandai sejumlah penemuan, penciptaan, dan pemikiran yang oleh peradaban modern telah diabadikan sebagai “agama” di dalam pikiran kita selama ini, benar-benar telah berakhir.

Selamat tinggal abad modern, yang mulai mewujud di Indonesia menjelang akhir abad ke-19 bersamaan dengan masuknya mesin-mesin uap produk Revolusi Industri dan kemudian sistem pendidikan Barat. Kini kita memasuki era pasca-modern – untuk tidak menyebutnya post-modern (supaya tidak rancu dengan wacana postmodernisme yang beberapa tahun lalu ramai diperbincangkan namun kemudian terbukti “ngawur”).

Itulah sebabnya, fenomena-femonema mutakhir yang kini banyak kita temui tidak lagi bisa dipahami dan dijelaskan dengan teori-teori atau pemikiran-pemikiran modern yang tersedia. Situasi itu pada gilirannya menciptakan khaos, di segala bidang kehidupan.

Dalam khaos itu, ketika teori-teori dan pemikiran-pemikiran modern – padahal itulah satu-satunya andalan seumur hidup kita – tidak lagi ampuh dan relevan buat memecahkan berbagai persoalan baru yang muncul di hari-hari ini, apa yang mest kita lakukan?

Sebetulnya gampang: jangan jadi dinosaurus! Maksudnya, janganlah membiarkan diri kaku, tidak mau berubah, hingga punah ditelan perubahan zaman.

Setiap makhluk hidup memiliki fitrah untuk berevolusi, menyesuaikan diri, dengan setiap bentuk perubahan. Naluri survival of the fittest. Bahkan nyamuk, yang cuma bisa hidup beberapa meter di atas permukaan laut, akibat perubahan iklim global yang menyebabkan garis laut meninggi, kini bermutasi hingga sanggup hidup bahkan di Puncak.

Tentu saja – karena manusia memang lebih sempurna dari nyamuk – sudah sangat banyak orang berhasil “bermutasi” hingga membuatnya tetap bisa bertahan dan terus berkembang dalam situasi khaos akibat perubahan ini.

Dalam industri periklanan, munculnya iklan-iklan non konvensional (yang umumnya merupakan hibrida dari berbagai pemikiran dan elemen di luar mazhab periklanan modern) adalah contoh paling nyata dari upaya survival of the fittest karena iklan-iklan konvensional mulai ditolak atau tidak efektif mempengaruhi sasarannya. “Mutasi” semacam itu kian hari kian sering dilakukan oleh orang-orang iklan di seluruh dunia, yang sayangnya bukanlah kita, para praktisi periklanan Indonesia.

Begitulah, perubahan dalam dunia komunikasi pemasaran memang telah terjadi. Setiap orang semakin dimungkinkan untuk menyampaikan sesuatu ke khalayak luas, sehingga para pengiklan dan praktisi periklanan tidak dapat lagi mengandaikan target audiensnya pasif dan reseptif seperti dulu. Perubahan-perubahan itu membuka mata kita bahwa riset pemasaran yang longitudinal dan mapan selama ini tidak mampu lagi menjelaskan ihwal manusia dan masyarakat yang semakin kompleks, heterogen, dan hybrid.

Sementara itu sebagian besar orang iklan Indonesia masih saja menggunakan teori-teori usang atau cara-cara dan sudut pandang konvensional. Akibatnya, iklan mulai dan semakin akan menemui kegagalan.

Citra Pariwara 2008, sebagai hajatan terbesar industri periklanan Indonesia, ingin memperlihatkan betapa perubahan itu telah nyata terjadi. Dalam program seminar, misalnya, para pembicara akan membagi kasus-kasus mutakhir yang mempergunakan pemikiran progresif, pendekatan baru, melibatkan dimensi-dimensi lain, bahkan merentang jauh hingga keluar dari periklanan. Karena komunikasi massa dalam era hibrida atau abad pasca-modern ini merupakan sebuah social engineering yang kompleks dan multidisplin. No boundaries.

Dan iklan hanya salah satu bagian dari ingar-bingar budaya kontemporer yang berebut menarik perhatian orang.

Salah satu misi Citra Pariwara 2008 adalah mengajak orang-orang iklan Indonesia untuk melihat cakrawala yang lebih luas, merendah dan menghargai sasaran komunikasinya sebagai lawan bicara yang sejajar, serta melibatkan diri dalam apa yang sebenar-benarnya menjadi minat dan kepentingan masyarakat yang telah dan akan terus berubah.

Tujuannya, agar kita tidak menjadi katak di dalam panci berisi air yang dipanaskan di atas kompor. Karena memiliki kemampuan tinggi dalam beradaptasi, ia tidak menyadari air semakin lama semakin panas dan perlahan-lahan membunuhnya.

Jadi, jelas, pilihan yang tersedia bagi kita hari ini tinggal satu: ikut berubah, atau mati!

Ada