Alhamdulillah, 26 tahun

Hari ini Satucitra genap 26 tahun.

Jeannette Sudjunadi sengaja memilih 14 Februari 1985 buat menandatangani akte notaris pendirian Cipta Citra Advertising. Sebagai perempuan romantis, cuma ia yang tahu persis makna pemilihan tanggal yang di seluruh dunia dirayakan sebagai Valentine’s Day itu. Tapi ia selalu menyebut alasan lain yang tak kalah romantis, “Supaya gampang diinget, jadi kita gak pernah lupa ngerayain.”

Di perusahaannya itu kemudian tumbuh tradisi merayakan ulang tahun perusahaan secara khusus, sebagaimana kita merayakan hari lahir anggota keluarga. Biasanya hanya selamatan internal dan makan siang bersama, ditambah tradisi pemberian kenang-kenangan perhiasan emas kepada karyawan yang telah bekerja lima tahun atau kelipatannya.

Selamatan internal yang agak berbeda pernah dilakukan 2006, pada ulangtahun ke-21. Ketika itu seluruh karyawan sarapan bersama di sepanjang Jalan Suryakencana, Bogor. Dilanjutkan ngaso dan ngopi di Kafe Gumati, kemudian makan siang dan sedikit acara internal di Dedaunan Cafe, Kebun Raya.

Tapi pada usia-usia tertentu kami juga membuat pesta besar. Di ulang tahun ke-5, 14 Februari 1990, Cipta Citra merayakannya dengan “meresmikan” kantor baru — dua unit ruko berlantai tiga yang didandani secara keren oleh desainer interior profesional — di Jl. KH Mas Mansyur, Tanahabang.

Pesta itu menjadi momentum yang menandai kiprah sebagai biro iklan modern: mulai menggunakan komputer Macintosh di studio kreatif dan produksi, IBM System/36 untuk jaringan administrasi dan proses kerja, serta memiliki ruang pertemuan dengan fasilitas presentasi multimedia dan kaca satu arah untuk riset. Tak ketinggalan juga diperkenalkan “lagu kebangsaan” yang dibuat oleh pemusik Candra Darusman bersama Totot Indrarto, waktu itu GM Office of the President.

Sepuluh tahun kemudian, 2000, pesta besar kembali digelar. Kali ini untuk meresmikan penggunaan nama dan logo baru Satucitra, memperkenalkan manajemen baru yang telah berhasil membawa perusahaan keluar dari krisis 1997-1999 sekaligus kantor baru di Jl. Penjernihan, Pejompongan.

Pesta besar berikutnya diadakan pada ulang tahun ke-17, 14 Maret 2002, agak lambat sebulan karena bencana banjir besar yang melanda Jakarta. Berbeda dengan sebelumnya, pesta kali ini dirancang sebagai reuni dengan mengundang semua yang pernah bekerja di Satucitra. Agak mengejutkan, jumlah “alumni” saat itu mencapai 246 orang. Termasuk tiga yang telah meninggal dunia dan 32 yang “buron” alias tidak bisa dilacak keberadaannya.

Terakhir adalah pesta ulang tahun ke-20 pada 2005. Ini juga berbeda. Tidak mengundang tamu dari luar karena dimaksudkan sebagai semacam ruwatan dalam tradisi Jawa. Secara internal kami melakukan instrospeksi, “bersih diri”, dan puncaknya menggelar wayang semalam suntuk di halaman kantor untuk masyarakat sekitar.

Pesta besar terakhir, 14 Februari 2005

Meskipun sengaja memilih tanggal khusus kelahiran perusahaannya semata karena sentimental reason, sejak menyerahkan pengelolan perusahaan kepada Ricky Pesik dan kawan-kawan Jeannette (dengan dua “n” dan dua “t”) malah jarang bisa menghadiri ulang tahun Satucitra. Alasannya selalu karena ada pekerjaan lain, baik di Jakarta maupun luar kota/negeri.

Perempuan cerdas dan energik yang antara lain dikenal sebagai pendiri MetroTV dan Yayasan Lembaga GN-OTA itu setidaknya sampai 1995 masih menggebu-gebu mengurusi langsung Satucitra. Tapi ia selalu memiliki ekstra energi untuk melakukan banyak hal sampingan.

Pada 1988 ia merekrut Joko Santoso HP (belakangan dikenal sebagai pembuat logo PAN dan anggota DPR) dan Harris Purnama (sekarang perupa kontemporer terkenal) — selain sebagai Copywriter dan Art Director — untuk menyiapkan penerbitan tabloid khusus ketenagakerjaan. Karena masalah perizinan yang rumit kala itu, rencana itu tidak pernah terealisasi.

Dua tahun kemudian ia membentuk Office of the President, sebuah unit kerja untuk menangani komunikasi korporat, kehumasan, dan pasar modal yang sedang marak saat itu. Unit kerja itu lantas dijadikan anak perusahaan bernama Saga. Di situ antara lain bercokol mantan jurnalis dan desainer Tempo/Editor: James R. Lapian, Toni Parhansyah, dan Indra Kusuma.

Begitu PSSI menunjuknya sebagai promotor kompetisi sepakbola Liga Indonesia, pada 1994 Jeannette membentuk anak perusahaan Cipta Citra Sports. Sejak itu waktunya lebih banyak tersita mengurusi sepakbola. Padahal ketika itu ia dan beberapa stafnya sedang menjadi konsultan pengembangan suplemen Media Indonesia, yang mengharuskannya memimpin rapat proyeksi isi dan evaluasi hampir setiap hari.

Bisnis Satucitra akhirnya lebih banyak diurus Managing Director Djoko Kadarusman, mantan Account Director Indo-Ad (Ogilvy), dan tiga ekspatriat senior.

Krisis moneter yang dengan cepat berkembang menjadi krisis perekonomian menjelang akhir 1997 memaksa Jeannette kembali ke kandang. Kurs dolar yang semula Rp 2.300,- terus melemah hingga Rp 17.000,- pada Juli 2008. Pertumbuhan ekonomi nasional tahun itu minus 8%.

Celakanya, hampir semua orang berpikiran ketika krisis datang hal pertama yang harus disetop adalah kegiatan periklanan. Seperti biro iklan lain, dengan cepat Satucitra kehilangan banyak pekerjaan. Dan seperti banyak perusahaan lain pula, pada 1998 Satucitra terpaksa mem-PHK enam tenaga kreatif, menghapus uang transpor/makan, dan memotong gaji 15%. Semua ekspatriat diputus kontraknya.

Menjelang akhir 1998 Jeannete mengumumkan rencana merger Satucitra dengan biro iklan Kawan & Associates. Setelah pengumuman itu Managing Director Djoko Kadarusman dan Client Services Director Shah Merdeka Effendi mengundurkan diri. Satucitra dipimpin Robert T. Tang dan Irawan Santosa dari Kawan & Associates.

Tapi perbedaan kultur menimbulkan friksi yang tidak bisa dijembatani. Robert, Irawan, dan lima karyawan Kawan & Associates mundur. Mulai akhir 1999, Ricky Pesik, Inggil S. Goendono, Totot Indrarto, Enin Supriyanto (kini kurator senirupa), dan Almarhum Aan Sugianto mengambil alih kemudi Satucitra.

Setelah berhasil melewati krisis, gaji karyawan yang dipotong dinaikkan lagi sesuai standar saat itu dan semua potongan gaji sejak 1998 dikembalikan penuh. Bersamaan dengan itu Jeannette secara resmi mengundurkan diri dari seluruh kegiatan Satucitra.

Sejak itu persepsi umum di kalangan industri periklanan bahwa “Satucitra adalah Jeannette, dan Jeannette adalah Satucitra” pelan-pelan terkikis. Apalagi ia sangat jarang lagi datang. Kalaupun bertandang cuma sebentar, dan lebih sering sekadar buat kangen-kangean dengan beberapa karyawan lama.

Saking jarangnya muncul, bagi sebagian besar karyawan Satucitra saat ini, Jeannette sama “menyeramkan”-nya dengan Bukek Siansu dalam cerita silat Kho Ping Hoo. Tokoh yang mitos soal kesaktiannya dipercaya oleh dunia kangouw sebagai “manusia setengah dewa.”

Jeannette Sudjunadi menghadiri selamatan internal

Foto @ satucitra

Ada
Fatal error: Call to undefined function post_comment_count() in /home/satucc/public_html/wp-content/themes/shaken-grid-premium/comments.php on line 30