Dari Pejompongan ke Pejompongan

Selamat ulang tahun ke 26, teman-teman di ‘agency pejompongan’ @satucitra :)

Twit dari @PPPIjkt, akun resmi Pengda PPPI DKI Jakarta 2008-2011, itu langsung mengingatkan bahwa — setidaknya di lingkungan industri periklanan Jakarta – Satucitra adalah “penguasa” kawasan Pejompongan. Sebuah pemukiman lama yang tersembunyi di Jakarta Pusat, berada di tengah kota hingga dekat ke mana-mana tapi relatif nyaman dan tidak terlalu ramai.

Disebut “penguasa” karena sebagian besar perjalanan Satucitra dilalui dari Pejompongan. Bahkan sejak 18 November 2000 kami resmi menjadi “penduduk asli” Pejompongan, yakni setelah manajemen baru nekat membeli rumah mantan pejabat PAM (Perusahaan Air Minum) seluas 926 m2, yang kini kami tempati.

Akhirnya, setelah 15 tahun capek berpindah-pindah kontrakan, perusahaan kecil ini bisa mempunyai kantor sendiri. Rumah berhalaman luas itu mesti direnovasi besar-besaran sebelum dijadikan kantor Satucitra. Toh perjalanan waktu membuat bangunan yang memang sudah tua itu kini mulai terlihat kusam lagi. Tapi mungkin petuah orang-orang tua zaman baheula bisa dijadikan penghibur, “Jelek-jelek kan punya sendiri, ndak ngontrak.”

Bukan berkecil hati. Diam-diam kami masih menyimpan mimpi yang pernah secara terbuka disampaikan kepada seluruh karyawan pada selamatan ulang tahun ke-20, 14 Februari 2005. Ketika itu kami berjanji akan secepatnya meratakan bangunan tua yang kami tempati itu dan mendirikan gedung modern tiga setengah lantai. Namun kondisi keuangan perusahaan memaksa kami buat menyimpan dulu mimpi besar tersebut.

Desain dan maket gedung yang akan diberi nama DALEM SATUCITRA tersebut dibuat oleh Enin Supriyanto, waktu itu Creative Director, yang pernah kuliah di jurusan Desain Interior ITB sebelum dipecat karena dipenjara sebagai narapidana politik oleh penguasa Orde Baru.

Maket "Dalem Satucitra", kantor masa depan Satucitra

Sejarah Satucitra sendiri tidak bermula dari Pejompongan. Satucitra pertama kali berkantor di koridor (bukan ruangan!) sebuah kantor besar di Jl. Senopati, Kebayoran Baru. Nyewa, ceritanya. Mesin ketik juga masih meminjam dari kantor itu. Telepon? ‘Kan bisa nebeng. Tak heran, jika yang empunya telepon sedang sibuk menelpon, terpaksalah Jeannette Sudjunadi atau dua karyawannya waktu itu lari ke telepon umum di Pasar Tulodong beberapa ratus meter dari situ dengan membawa setumpuk uang logam Rp 50,-

Tak lama ngemper di kantor orang, Satucitra mulai memasuki Pejompongan. Kantor pertama hanya berupa paviliun kecil, yang di kemudian hari dipakai sebagai tempat praktek dokter, di Jl. Mesjid I No. 11. Lumayan, sudah ada telepon dan mesin ketik.

Setahun di sana, bergeser beberapa puluh meter ke selatan. Persisnya di Jl. mesjid I No. 19, yang bangunannya lebih luas. Di sini Satucitra mulai mengenal komputer untuk digunakan penulis naskah iklan, manajer keuangan, dan manajer media.

Di kantor itu pulalah Satucitra melesat ke jajaran “elite” periklanan Jakarta setelah memenangkan pitching tiga akun besar dan prestisius dari Indomobil (Hino, Mazda, Volvo). Maka, bukan hanya kesibukan yang meningkat, tapi juga terjadi penambahan karyawan dalam jumlah besar. Dalam tempo singkat, rumah yang terletak persis di depan masjid itu terasa sesak.

Mulai 1988 Satucitra pindah lagi ke Jl. Tondano A1, tak sampai sekilometer dari kantor sebelumnya. Sebuah rumah yang jauh lebih besar dan lebih keren.

Sayang, mungkin karena lokasinya di jalan umum yang ramai, keamanan di luar kantor agak rawan. Beberapa kali mobil karyawan dibobol maling. Yang paling tragis menimpa Dara Dharmata Hakim, Account Executive baru yang juga dikenal sebagai pendaki gunung tangguh. Pintu mobilnya dicongkel dan seluruh gaji pertamanya raib, padahal pada waktu kejadian ia hanya masuk sebentar ke kantor untuk mengambil barang yang tertinggal.

Bisnis terus membesar, karyawan semakin banyak, dan Satucitra membutuhkan ruang kantor yang lebih luas lagi. Karena tidak menemukan rumah besar di Pejompongan, akhirnya menyewa dua ruko tiga lantai yang kemudian dipermak habis di Jl. KH Mas Mansyur, Tanahabang.

Kendati awalnya tidak terlampau bersemangat, justru di kantor inilah Satucitra paling lama bermukim sebelum dikalahkan oleh kantor yang sekarang: 10 tahun. Mungkin karena selama di Tanahabang-lah bisnis Satucitra paling bergejolak — dari makin membengkak sampai mau bangkrut — hingga tak pernah berpikir buat pindah dulu. Karena itu berarti tambahan biaya besar lagi.

Nyaman di dalam, tapi agak mencemaskan di luar. Kami kemudian mengakalinya antara lain dengan menyewa halaman Panti Asuhan Muhammadiyah di seberang kantor buat lahan parkir kendaraan karyawan dan merekrut tenaga keamanan profesional, yang terdiri dari kombinasi personil militer yang nyambi kerja bersama beberapa “jawara” setempat.

Meskipun tidak pernah menjadi sasaran langsung kejahatan dan kekerasan, tradisi tawuran antara warga Papua (tinggal di Mess Irian persis di seberang kantor) dengan warga lokal Betawi (bermukim di belakang dan kanan-kiri kantor) bisa terjadi 3-4 kali dalam setahun. Jika sedang berlangsung tawuran, pintu pagar digembok dan kami menjadi “tawanan” di dalam kantor sendiri sambil sesekali menonton dari jendela depan. Para ekspatriat pun sangat menikmati tontonan yang sangat tidak beradab itu.

Tawuran paling parah terjadi suatu malam, selama berjam-jam tidak kunjung bisa dilerai oleh polisi, dan kedua pihak mulai berusaha mencongkel penutup tangki bensin mobil karyawan yang ada di halaman buat buat mengambil isinya. Jeannette menelpon seorang koleganya, dan tidak lama kemudian datang serombongan pasukan berpakaian militer membantu evakuasi seluruh karyawan dan mobil-mobilnya meninggalkan kantor. Pemimpin rombongan penyelamat itu mengaku bernama Brigjen Johny L. dari kesatuan di kawasan Gambir.

Tapi tanpa itu pun, kantor di Tanahabang bukanlah tempat yang nyaman. Lalu lintas dari dan ke Pasar Tanahabang tidak pernah sepi. Gangguan besar juga datang setiap kali masa kampanye Pemilu. Sebagai basis terbesar PPP (Partai Persatuan Pembangunan) bisa setiap hari ratusan orang beteriak-teriak, bernyanyi-nyanyi, mengeluarkan segala macam bunyi-bunyian, berpawai dengan truk, mobil, dan sepeda motor yang dilepas saringan knalpotnya, hilir-mudik tidak mengenal lelah.

Syukurlah akhirnya Satucitra bisa pindah dari Tanahabang. Lebih bersyukur karena kemudian bisa kembali lagi ke Pejompongan.

Foto © satucitra

Ada
Fatal error: Call to undefined function post_comment_count() in /home/satucc/public_html/wp-content/themes/shaken-grid-premium/comments.php on line 30