Selamatan #26thsatucitra

Karena jatuh pada “hari kejepit nasional”, hingga beberapa orang penting mengambil cuti panjang, selamatan internal ulang tahun ke-26 Satucitra baru diadakan hari ini.

Seperti biasa, seluruh karyawan berkumpul di ruang pertemuan. Managing Director Ricky Pesik menyampaikan pesan penting tahun ini, disambung tiup lilin kue ulang tahun, pemotongan tumpeng, dan makan siang bersama.

Oh ya, sebelumnya ada tradisi yang sudah dimulai 21 tahun lalu. Perusahaan memberikan ucapan terima kasih berupa kenang-kenangan perhiasan emas kepada karyawan yang telah bekerja lima tahun atau kelipatannya. Berat perhiasannya adalah dua kali masa kerja. Jadi mereka yang bekerja lima tahun memperoleh perhiasan 10 gram, 10 tahun mendapat 20 gram, dan seterusnya.

Lumayan juga nilainya. Jika harga emas 22 karat per gram Rp 300.000,- saja, berarti karyawan bermasa kerja 10 tahun kebagian bonus Rp 6 juta.

Acara penyerahan ucapan terima kasih ini sejenak menjadi momen yang mengharukan. Pada saat itulah biasanya hampir semua kami baru menyadari jika teman-teman yang giliran mendapat kenang-kenangan ternyata sudah lama juga bekerja di sini. Padahal, bukan rahasia lagi sebenarnya, lebih dari separuh jumlah karyawan Satucitra memang bermasa kerja panjang.

Tahun ini giliran delapan karyawan mendapat perhiasan emas ucapan terima kasih. Tiga dengan masa kerja 10 tahun, lima sudah 20 tahun.

Tahun lalu, pada selamatan internal ulang tahun ke-25, terdapat enam karyawan yang sudah bekerja 10 tahun, dua karyawan 20 tahun, dan tiga karyawan bahkan 25 tahun. Ketiganya adalah Jeannette Sudjunadi sang pendiri Satucitra, Aline Hastyarin (General Affair Manager), dan Kasdi (kurir).

Aline dan Kasdi adalah dua prajurit setia yang telah ikut menemani Jeannette sejak bulan-bulan awal mendirikan Satucitra. Kami sering menyebut keduanya “tukang batu” yang ikut membangun fondasi perusahaan ini.

Goenawan Mohamad pernah menulis dalam salah satu catatan pinggirnya: Setelah Tembok Cina berdiri, kemana para tukang batu pergi? Seperti juga Candi Borobudur, sejarah tidak pernah mencatat cerita tentang para tukang batu yang sudah ikut bersusah-payah membangun dua keajaiban dunia tersebut.

Bisa jadi itu bukti bahwa sejarah memang cuma milik orang-orang besar dan berkuasa saja. Atau jangan-jangan para tukang batu itu memang mati dan tertimbun di bawah bangunan megah yang sudah selesai mereka bangun.

Di Satucitra, untungnya, tidak semua “tukang batu” mati tertimbun dan dilupakan. Kasdi, misalnya, sebelumnya sudah bekerja di Matari Advertising selama delapan tahun. Begitu cintanya pada Matari sampai dua anak pertamanya diberi nama depan Puri — diambil dari Puri Matari, kantor baru biro iklan milik Alamarhum Ken Sudarto di Kuningan tersebut. Tapi itu tidak membuatnya terbebas dari PHK ketika Matari mengalami krisis pertama.

Kasdi lantas masuk Satucitra sebagai tukang tempel poster. Ia mengaku semua pasar di Jakarta waktu itu pernah didatangi dan ditempeli poster. Tapi pekerjaan itu pula yang membuatnya ditangkap sewaktu sedang menempel poster permen Cocorico di Jalan Jenderal Sudirman.

Office Boy andalan kami, Sugino, dua tahun lalu mendapat kenang-kenangan untuk pengabdiannya selama 20 tahun. Pada 1988, Gino, waktu itu bujangan yang pernah menjadi pekerja bangunan, masuk Satucitra sebagai karyawan “sapu jagat” alias mengerjakan segala hal sekaligus pununggu kantor di Jalan Tondano A1. Kini ia memiliki rumah yang sudah selesai dicicil di Bekasi Timur dan anak sulung perempuannya sedang kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka).

Di samping Aline, Kasdi, dan Gino, dalam dua tahun terakhir ini saja “ditemukan” tujuh karyawan yang betah bekerja lebih dari 20 tahun dan sembilan karyawan lebih dari 10 tahun. Di jajaran manajemen juga ada tiga orang yang berpredikat “tukang batu”: Ricky Pesik dan Inggil S. Goendono (keduanya sejak 1989) serta Totot Indrarto (sejak 1987).

Banyaknya karyawan yang betah bekerja lama di Satucitra tidak perlu diromantisir sebagai tanda kesetiaan pada perusahaan dan sebagainya, karena setiap orang hanya perlu setia pada kata hatinya sendiri. Barangkali fenomena itu lebih bisa dilihat sebagai kesungguhan Satucitra memelihara salah satu semangat pendirinya untuk “menjadikan perusahaan ini rumah kecil yang bisa memberikan kenyamanan dan kehidupan terbaik kepada setiap penghuninya.”

Ismet dan Shynta meniup lilin ulang tahun: generasi ketiga calon pemimpin Satucitra

Foto © satucitra

Ada
Fatal error: Call to undefined function post_comment_count() in /home/satucc/public_html/wp-content/themes/shaken-grid-premium/comments.php on line 30