Setiap orang selalu punya cerita. Ketika berhadapan dengan sesama, dia akan berbagi pengalaman, keinginan, dan yang paling utama: sisi pandangnya. Keragaman perspektif ini yang selalu membuat setiap diskusi menjadi menarik karena setiap orang bisa saling mengutarakan pendapatnya, tidak hanya sekadar memberi atau menerima. Sifat interaksi sosial inilah yang telah mengubah wajah sebuah dunia bernama internet.
Ketika Obama pertama kali muncul di panggung politik nasional Amerika, hampir tak seorang pun, kecuali lingkaran dalam Partai Demokrat dan konstituennya di Illinois sana, pernah mendengar namanya.
Perubahan datang begitu perlahan, sampai kita, manusia, tidak sadar dengan perubahan itu. Perubahan mengendap-endap, lalu menyergap, membuat manusia gelagapan dan gagap karena mereka tiba-tiba berada di tempat yang begitu asing dan tidak mereka mengerti.
Jauh sebelum Barrack Obama mengusung tema “perubahan”, yang mengantarnya menjadi Presiden AS ke-44, orang di seluruh dunia sudah ramai membicarakan soal tersebut. Boleh dibilang hari-hari ini isu pokok yang paling bayak dibicarakan adalah perubahan.
Festival atau lomba iklan memang panggungnya orang-orang kreatif. Tapi pernahkah, ketika sedang menikmati iklan-iklan bagus pemenang lomba, terpikir, “Brief kayak apa ya yang ditulis dan ditularkan oleh orang-orang account management hingga tim kreatif bisa melantur sampai dapat ide sehebat itu?”
Lebih dari sebelumnya, beberapa tahun terakhir dunia periklanan Indonesia diramaikan dengan sebuah terminologi “baru”, yakni Strategic Planning.
Tanyakan kepada sepuluh orang tentang iklan, semua akan menjawab bahwa iklan sama artinya berjualan produk. Iklan, dalam “prasangka” itu, bagaikan pengasong yang saling berlomba menawarkan dagangannya di depan hidung konsumen. Makin atraktif caranya menjajakan, makin berhasil ia menggerakkan konsumen untuk membeli barang yang dijual.
Pepatah “Kejarlah Ilmu Sampai ke Negeri China” nampaknya tidak berlaku di dunia periklanan. Pada penyelenggarakan Asia Pacific Advertising Festival (selanjutnya disingkat AdFest) ke-7, yang berlangsung 18-20 Maret 2004, Thailand semakin mengukuhkan diri sebagai negara di kawasan Asia Pasifik yang paling layak menjadi salah satu episentrum perkembangan kreativitas periklanan dunia.
Citra Pariwara (CP) 2003 berakhir tanpa kejutan. Kecuali beberapa iklan cetak dan radio yang belum pernah kita ketahui sebelumnya, iklan-iklan pemenang umumnya sudah kita jagokan sejak jauh-jauh hari.
Ada polemik abadi, yang mungkin tak pernah selesai sampai dunia berakhir, dalam jagat penciptaan dan kreativitas. Yaitu — kalau mau disederhanakan — soal idealisme versus komersialisme.