Iklan-iklan kontemporer kita

Pameran lukisan kontemporer bertajuk Artvertising di Galeri Nasional, 24-30 Oktober lalu, memperlihatkan bagaimana iklan melulu dipahami sebatas kerja memanipulasi napsu konsumsi dengan cara-cara “kasar”. Tak heran jika ekspresi yang muncul kemudian juga cuma plesetan atau parodi dari iklan-iklan pendorong napsu itu.

Kapan terakhir merasa bangga menjadi orang indonesia?

Iklan yang bagus dan sukses biasanya adalah komunikasi yang cerdas menggali consumer insight-nya. Seperti billboard raksasa Nike bergambar Bambang Pamungkas, Ponaryo Astaman, dan Elie Aiboy (tidak ada di bawah), yang dipasang di depan pintu Barat Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, menjelang AFC Asian Cup 2007.

Merayakan kehadiran naskah-naskah iklan hebat

Sebagai Copywriter afkiran, sudah lama saya tak menikmati kehadiran naskah-naskah iklan hebat di jagat periklanan nasional yang membuat saya iri pada penulisnya. Tapi bulan ini saya mendapat “hadiah” dua iklan sekaligus! Senangnya….

Mencari mimpi besar di tengah billing besar

“We believe that no one can understand and communicate with Indonesians, like other Indonesians…”

Selamat datang di dunia citra!

Camkan sekali lagi salah satu “mantra” budaya massa: kita hidup di dunia citra! Dan mesin pencitraan yang paling canggih saat ini adalah advertising atau periklanan.

Iklan-iklan dari era merek

Vinit Suraphongchai, Managing Director biro iklan BBDO Bangkok, tokoh terkemuka industri periklanan Thailand, suatu hari berniat menyelenggarakan sebuah lomba kreativitas periklanan yang prestisius di kawasan Asia Pasifik.