Memahami Indonesia

Satucitra adalah perusahaan komunikasi yang memahami dengan baik pasar dan manusia Indonesia.

Kami senantiasa menawarkan solusi pengembangan merek yang berakar dari pengalaman, pengetahuan, dan kesadaran bahwa pasar dan manusia Indonesia sangat khas. Pemahaman bahkan ketika dunia sudah menyatu, Indonesia tidak akan pernah menjadi serupa dengan bangsa lain. Karena Indonesia bukan sekadar identitas, melainkan sebuah entitas, budaya, dan peradaban dengan sejarah dan karakteristik yang juga khas.

Positioning itu merupakan keunggulan komparatif Satucitra, yang terbentuk bukan dari keterbatasan, namun justru dari pengalaman panjang menangani kampanye komunikasi pemasaran beragam merek lokal maupun internasional di pasar Indonesia.

Berpengalaman sejak 1985

14 Februari 1985, Jeannette Sudjunadi, mantan Account Manager Matari Advertising berusia 27 tahun, mendirikan biro iklan Cipta Citra Advertising dengan hanya dua karyawan. 26 tahun kemudian, setelah berganti nama menjadi Satucitra pada 2000, perusahaan itu masih tegak berdiri, dengan 45 karyawan. Lengkap dengan segala nilai yang dimilikinya: idealisme dan reputasi sebagai biro iklan yang dihormati dalam industri periklanan Indonesia.

Menegakkan idealisme semacam itu selama lebih dari setengah abad bukan perkara mudah. Begitu pula membangun reputasi sebagai biro iklan yang senantiasa berorientasi pada layanan dan kreativitas.

Ketika krisis multidimensi berada pada titik terendah akhir 1998, Satucitra, yang ketika itu juga berada di perbatasan antara hidup dan mati, melakukan perombakan manajemen. Generasi kedua Satucitra, dipimpin Ricky Pesik, Inggil S. Goendono, Totot Indrarto, Enin Supriyanto, dan Almarhum Aan Sugianto yang bergabung sejak 1987-1989, berhasil membawa perusahaan keluar dari krisis dan terus berkiprah sampai hari ini.

Momentum itu juga menandai era baru sebagai satu-satunya biro iklan Indonesia yang didirikan dan dibesarkan oleh seorang praktisi periklanan, namun kemudian berhasil bertansformasi menjadi perusahaan yang sepenuhnya dikelola oleh tenaga-tenaga profesional. Di bawah manajemen baru itu, Satucitra membeli bangunan di atas tanah seluas hampir 1.000 m2 di Pejompongan yang kini menjadi kantor kami.

Setelah dua belas tahun, sekarang generasi ketiga Satucitra, yaitu praktisi-praktisi komunikasi muda yang telah banyak belajar di biro-biro iklan berjaringan internasional, menjadi motor penggerak yang siap menggambil alih kendali perusahaan. Mereka adalah Shynta L. Ferdiaz, M. Ismail Fahmi (Ismet), Daniel Lesmana, dan Rangga A. Sastrowardoyo.

Komunikasi adalah dialog

Sejak tahun-tahun awal, Satucitra telah dipercaya menangani kampanye periklanan merek-merek besar, beberapa di antaranya bahkan ketika merek itu baru lahir atau belum dikenal.

Perjalanan 26 tahun tersebut di satu sisi memberikan sangat banyak pengalaman berkomunikasi dengan praktis hampir semua kelompok dan lapisan manusia Indonesia, dan di sisi lain mengajarkan kami bahwa pemahaman yang baik mengenai pasar dan manusia selalu menjadi kunci keberhasilan komunikasi.

Keduanya berujung sama: semakin menyadarkan bahwa tugas kami hakikatnya memikirkan problem yang dihadapi merek. Yang dibutuhkan setiap merek dalam pasar yang semakin ramai dan riuh adalah solusi atau gagasan strategis dengan berbagai kreativitas yang relevan.

Keduanya juga menumbuhkan keyakinan bahwa berkomunikasi sesungguhnya adalah membuka, melakukan, dan terus-menerus memelihara dialog personal. Medium yang digunakan boleh bersifat massal, namun konten komunikasinya mesti bisa diterima dan direspons secara manusiawi.

Semua itu kemudian menjadikan Satucitra tidak lagi sebatas full service advertising agency seperti pada awal berdiri dan perjalanan 20 tahun pertamanya, namun telah bertransformasi menjadi sebuah perusahaan komunikasi yang berfokus pada “bagaimana cara terbaik mengajak sasaran komunikasi kita berdialog secara terbuka.”